Ulasan Buku Yang Tersisa Dari Kematian karya Chen Xue
Blurb
Li Haiyan menyimpan rahasia kelam, yaitu masa lalunya sebagai anak dari tersangka pembunuhan. Bertahun-tahun kemudian, satu telepon misterius membawanya kembali ke kampung halaman, ke hutan persik yang menyimpan lebih banyak luka daripada yang bisa dia bayangkan. Dalam pencarian kebenaran bersama seorang detektif yang juga dihantui masa lalu, mereka menggali kembali tragedi, cinta, dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar mati.
Yang Tersisa dari Kematian adalah novel kriminal psikologi. Kisahnya menyelami trauma keluarga, identitas yang terbelah, dan bagaimana rasa bersalah bisa hidup lebih lama dibanding siapa pun yang ditinggalkannya.
Informasi Buku
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Penulis | Chen Xue |
| Penerjemah | Nety Simpony |
| Penerbit | PT Elex Media Komputindo |
| Tanggal Terbit | 20 Oktober 2025 |
| ISBN | 9786230073366 |
| Kategori | Fiksi & Misteri |
| Jumlah Halaman | 392 (xvii + 373) |
| Dimensi | 13 x 20 cm |
Dapatkan buku ini di lokapasar berikut:
Yang Tersisa dari Kematian karya Chen Xue menjadi novel pertama yang saya baca dari penulis Taiwan. Awalnya, saya tertarik karena melhat sampulnya yang berlatar belakang merah, diikuti dengan baju dan rok yang tergantung di pohon, seakan menunjukkan bahwa pohon tersebut menjadi saksi kejadian mengerikan yang dipenuhi oleh darah, and i was proven right.
Trigger warning: mention of suicide, PTSD, graphic description of murder, stalking.
Daftar Tokoh
- Li Haiyan, tokoh utama novel ini yang dilabeli sebagai anak seorang pembunuh. Setelah dewasa ia bekerja sebagai jurnalis.
- Ding Xiaoquan, sahabat Li Haiyan. Memiliki perawakan tinggi dan cantik. Hobinya menari dan menyanyi. Ia dibesarkan oleh single father yang galak sehingga memiliki sifat tomboy.
- Song Dongnian, pacar Ding Xiaoquan, mantan tim basket sekolah, sekarang bekerja menjadi polisi.
Overview
Saat berusia 16 tahun, Zhou Jiajun tinggal di sebuah desa terpencil di barat kecamatan Taolin bersama ayah, ibu, dan kakeknya. Rumah mereka memiliki tiga tingkat, lengkap dengan kebun buah dan deretan pohon persik yang indah. Di SMA Qun'yin, ia dan sahabatnya, Ding Xiaoquan, mengikuti klub paduan suara.
Suatu pagi, sekolah dibuat gempar. Kabarnya, tubuh tak bernyawa Ding Xiaoquan ditemukan di hutan persik rumah Zhou Jiajun dalam keadaan tanpa busana. Padahal, semalam, Ding Xiaoquan masih terlihat bersama pacar sekaligus kakak kelasnya, Song Dongnian.
Ditemukan banyak luka tusuk di sekujur tubuh dan bekas jeratan di leher. Tubuhnya ditata seakan ia sedang tertidur pulas di tengah hamparan pohon persik. Pakaiannya berhamburan di sekitar pohon, seperti yang ada di cover. Di mulutnya tertanam daun kering, seolah pelaku ingin membungkam bibir indah Ding Xiaoquan.
Bukti alat pembunuhan berupa pisau pemotong buah yang berlumuran darah. Pisau ini ditemukan di lantai saung tempat ayah Zhou Jiajun tidur saat dia mabuk. Tak lama berselang, ayahnya pun ditetapkan menjadi tersangka. Zhou Jiajun yang hanya berusia 16 tahun harus menanggung beban sebagai "anak seorang pembunuh".
14 tahun berselang, Zhou Jiajun yang mengalami ketakutan saat ia bercermin, kini telah dewasa dan mengubah identitasnya. Namanya sekarang adalah Li Haiyan dan penampilannya berubah setelah menjalani operasi plastik. Li Haiyan, yang saat ini adalah jurnalis kriminal yang disegani, mendengar berita bahwa telah muncul kasus pembunuhan dengan modus operandi yang identik dengan kasus ayahnya. Bagaimana bisa? Ayahnya sudah merenggut nyawanya sendiri di penjara. Apakah ini kasus peniruan atau mungkin pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana?
Untuk memecahkan misteri ini, Li Haiyan harus kembali ke Taolin, tempat dimana masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam terpendam. Akankah Li Haiyan berhasil mengungkap kebenaran yang tersembunyi sambil tetap menjaga identitas barunya dari penduduk Taolin?
Ulasan
Setelah membaca overview di atas, saya rasa kita bisa mengira-ngira kemana arah dari cerita ini. "Oh pasti mencari kebenaran dari pembunuhan tersebut!". Memang benar dan itu adalah misteri yang akan dipecahkan nanti di akhir.
Alih-alih mencari tahu "siapa" pelaku yang sebenarnya, saya rasa penulis lebih ingin kita berfokus ke "alasan" mengapa pembunuhan tersebut terjadi dan bagaimana para tokoh menjalani hari-hari mereka setelah kehilangan orang yang mereka cintai akibat kematian, hence the title of this book.
Poin Positif
Pembunuhan yang indah dan kreatif. Jadi, pembunuhan di novel ini memiliki trademark tersendiri. Korban hasil pembunuhan ditata sedemikian rupa sehingga ia tampak tertidur pulas secara telanjang. Barang korban (baju, rok, celana dalam) dipamerkan di sekitar TKP dan terdapat bekas jeratan di leher. Menonjolkan kesan seram dan estetika di saat yang sama. Badan korban dan TKP bersih dari jejak apapun sehingga polisi kesulitan untuk setidaknya memiliki gambaran pelaku.
Namun pelaku ini juga suka bermain "kucing-kucingan" dengan sengaja meninggalkan petunjuk dan informasi untuk mengarahkan tim penyidik ke suatu lokasi atau simbol-simbol yang berhubungan dengan apa yang pelaku ingin sampaikan.
Pelaku pun begitu lihainya melimpahkan hasil kerja kerasnya ke orang lain sehingga ia bisa bebas berkeliaran tanpa dicurigai. Yah, sampai nanti di akhir cerita.
Tidak semudah itu untuk hidup normal. Sepanjang novel, kita diperlihatkan bagaimana Li Haiyan dan Song Dongnian menjalani hidup mereka sebagai orang dewasa. Singkatnya, mereka hancur, meski mereka tampak seperti orang normal dari luar.
Penulis menggambarkan keseharian Li Haiyan sebagai jurnalis yang hebat dan sering meliput berita-berita pembunuhan. Ia sudah mencoba untuk menjalani pekerjaan lain namun kerja jurnalis dirasa paling cocok oleh Li Haiyan. Di lain sisi, Song Dongnian, yang perasaannya hancur melihat mayat pacarnya saat ia remaja, mendedikasikan hidupnya sebagai polisi hanya untuk memecahkan kasus tanpa kenal lelah. Siklus hidupnya hanya "Berangkat - Kerja - Pulang" setiap harinya.
Keduanya memiliki kesamaan, yaitu menyibukkan diri dengan pekerjaan sehingga mereka bisa mengalihkan pikiran dan energi mereka ke sesuatu yang lebih produktif dan tidak dikonsumsi oleh pikiran negatif yang seringkali muncul saat mereka dalam keadaan sendiri.
Poin Negatif
Alur yang lambat. Sebagai novel dengan 373 halaman, saya rasa setengahnya efektif dipenuhi oleh penjelasan yang, how do i say this, terlalu detail?. Monolog saat flashback serta penjelasan repetitif mengenai bagaimana pekerjaan Li Haiyan dan Song Dongnian yang diulang di beberapa tempat.
Hal ini membuat alurnya bergerak sangat lambat dengan tambahan informasi yang hampir cukup repetitif.
Antagonis yang mudah ditebak. Tidak ada twist apapun di novel ini. Penulis secara gamblang menjelaskan isi pikiran dan masa lalu si pelaku sehingga investigasi dari polisi mengalir begitu saja. Kita sebagai pembaca cukup mengikuti dan hanya perlu mengira-ngira sebenarnya "mengapa" pelaku melakukan pembunuhan tersebut.
Penutup
Buku Yang Tersisa dari Kematian cocok untuk kamu yang ingin melihat bagaimana para korban yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka sayangi akibat kematian mencoba menjalani hidup mereka dengan normal meski kesedihan selalu datang disaat yang tidak mereka duga.
Yang Tersisa dari Kematian by 陳雪My rating: 3 of 5 stars
View all my reviews
Mengenai Penulis
Chen Xue adalah salah satu novelis kontemporer terkemuka dari Taiwan yang lahir pada tahun 1970. Dia memulai debut sastranya pada tahun 1995 melalui karya The Book of Bad Women. Beberapa karya terkenalnya antara lain: The Possessed (2009), Lovers in the Maze (2012), The Town of the Lost Ones (2019), Dear Accomplice (2021), dan Skyscraper (2023). Yang Tersisa dari Kematian merupakan novel pertamanya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia
Gabung dalam percakapan